Nama               : Dimas Rafliananta
NIM                 : 185040100111027
Kelas                : H
Jamur Kancing (Agaricus bisporus)
A.      Pengenalan Jamur Kancing
Sumber: Agriflo, 2012
Jamur kancing atau nama ilmiahnya adalah Agaricus bisporus dan memiliki nama lain jamur champignon merupakan salah satu jamur edible atau dapat bisa dikonsumsi, tidak mengandung racun, dan termasuk dalam kelas jamur Basidiomycetes. Jamur ini merupakan salah satu jamur yang paling banyak diproduksi di dunia serta menjadi salah satu jamur yang sering dikonsumsi oleh masyarakat umum, biasanya dijual dalam bentuk segar atau bisa dalam bentuk kaleng. Jamur kancing memiliki aroma yang unik sehingga sering diolah menjadi olahan seperti tumis jamur kancing, mie ayam jamur, sup jamur kancing, serta biasa dibuat untuk saus pada steak. Bentuk dari jamur ini mirip seperti kancing maka dinamakan jamur kancing karena hal tersebut. Menurut Agriflo (2012) klasifikasi jamur kancing ini dibagi menjadi beberapa diantaranya:
1.     Kingdom: Myceteae
2.     Divisi: Basidiomycota
3.     Kelas: Basidiomycetes
4.     Subkelas: Homobasidiomycetidae
5.     Ordo: Agaricales
6.     Famili: Agaricaceae
7.     Genus: Agaricus
8.     Species: Agaricus bisporus
Jamur kancing memiliki bentuk hampir bulat mirip seperti kancing dan berwarna putih bersih, krem ataupun cokelat muda. Jamur ini memiliki tubuh yang terdiri dari tudung, batang, dan akar. Pada batang jamur ini memiliki cincin yang menjadi pembeda antara jamur kancing dan jamur-jamur edible yang lainnya. Memiliki tubuh yang berdiameter maksimal saat panen 2-4 cm dan saat mekar memiliki diameter hingga 20 cm. Jamur ini memiliki dua spora disetiap basidiumnya dan masing-masing memiliki dua inti hasil dari pembelahan secara meiosis. Kedua inti tersebut dapat menyatu dan dapat tumbuh membentuk hifa dan membentuk tubuh buah jika bertemu (Achmad, et al., 2011).
B.      Media Tanam Jamur Kancing
Menurut Agriflo (2012), media tumbuh dari jamur kancing ini hampir sama dengan media tanam yang digunakan untuk jamur merang. Media tanamnya adalah jerami yang telah dikomposkan terlebih dahulu dengan maksud agar di dalam media tidak terdapat mikroorganisme pengganggu tumbuh jamur kancing ini. Berikut merupakan komposisi bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan media tanam untuk jamur kancing:
Menurut Agriflo (2012), Cara membuat media pengomposan dengan jerami adalah sebagai berikut:
1.     Jerami yang dipakai dijadikan satu ikat sekitar 1,83 kg.
2.     Jerami yang kering direndam dalam air.
3.     Ikatan jerami tersebut disusun diatas tanggul.
4.     Setelah terbentuk lapisan pertama, jerami tersebut disiram dengan menggunakan air dan ditambahkan bekatul dan kapur diatasnya.
5.     Susunan lapisan kedua ditata dan disiram lagi dengan air hingga lapisan setinggi 10 cm.
6.     Lapisan jerami ditekan sekuatnya ketika disusun.
7.     Langkah selanjutnya adalah diselubungi dengan lembaran plastik agar kelembapan dalam jerami tinggi.
8.     Pengomposan dilakukan kurang lebih 3-4 hari yang tergantung dengan kondisi cuaca yang sedang terjadi.
9.     Tiga hari setelah itu jerami akan menjadi kecokelatan pada suhu 65oC.
10.  Tiga hari setelah pengomposan dapat dikatakan selesai jika terdapat cairan kuning yang melekat mulai keluar dari tumpukan jerami tersebut.
11.  Kemudian dilakukan proses pasteurisasi dengan cara mengalirkan uap panas ke dalam kumbung yang tertutup rapat dan hanya berlangsung 6-8 jam dengan suhu 58-60oC.
12.  Seteleh itu didinginkan.
13.  Suhu jerami yang telah dikompos dipertahankan selama minimal 72 jam dengan suhu 48-50oC.
C.      Lingkungan Tumbuh Jamur Kancing
Lingkungan yang optimal akan mendukung tumbuh jamur kancing secara optimal juga. Menurut Achmad (2011), jamur kancing dapat tumbuh dengan baik pada suhu 17-18oC dengan kelembapan udara 80-85%. Secara alami jamur kancing tumbuh di daerah-daerah subtropis yang memiliki suhu udara yang cukup dingin. Besaran suhu ini dapat ditoleransi oleh jamur kancing pada suhu 26-28oC saat fase pembentukan miselium. Saat fase pembentukan miselium, jamur memerlukan kadar air di media tanam dengan kisaran 62-65%, kelembapan udara 90-95%, dan kadar oksigen tidak terlalu tinggi. Saat pertumbuhan tubuh buah, jamur kancing memerlukan suhu diantara 17-18oC dengan kelembapan 80-85%, dan kadar oksigen yang cukup tinggi.
D.      Pembibitan Jamur Kancing
Pembibitan menurut Agriflo (2012), dilakukan dengan cara inokulasi. Inokulasi pertama kali dilakukan dengan penaburan bibit jika suhu media telah mencapai suhu ruang. Kemudian bibit ditebarkan di bagian atas dan tengah media. Kumbung diusahakan tertutup rapat dengan sirkulasi udara tetap lancar serta suhu dalam kumbung dijaga pada kisaran 20-25oC dengan kelembapan udara 80-90%. Kemudian media tanam diletakkan pada rak tanaman dengan tinggi 15-20 cm. Jumlah bibit yang dibutuhkan dihitung dengan satuan liter/ton kompos. Produktivitas jamur kancing ini secara optimal dicapai saat bibit yang digunakan adalah 7,5 liter/ton kompos. Saat 2 minggu setelah tanam, miselium jamur mulai tumbuh memenuhi permukaan media.
E.      Teknik Budidaya Jamur Kancing
Langkah budidaya jamur kancing dijelaskan oleh Siswanto (2017), beberapa tahap diantaranya:
1.     Menyiapkan media tanam.
2.     Proses pengomposan.
3.     Tahap sterilisasi media tanam.
Dilakukan dengan cara meletakkan media tanam yang telah dikompos secara merata pada rak-rak yang telah disiapkan dalam ruang kumbung jamur. Kemudian dialiri uap panas dari rebusan air di pembangkit uap dan suhu mencapai ruang kumbung berkisar antara 60-65oC dan dipertahankan selama kurang lebih 12 jam. Kemudian ketika telah melebihi suhu 65oC maka segera membuka ventilasi agar suhu ruang turun menjadi 40-45oC dan dipertahankan selama kurang lebih 70 jam.
4.     Penanaman bibit jamur.
Ketika suhu mencapai 32oC, maka jamur kancing dapat ditanam. Untuk rak yang digunakan untuk budidaya sendiri berukuran 3x1 meter dan dapat diisi antara 10-14 botol dan berukuran 220 cc. Suhu yang ideal pada proses ini adalah 28,8-30oC pada daerah dataran tinggi, serta pada dataran rendah dengan suhu 24,4-26,6oC. Kelembapan yang baik adalah 90-100% dan kemudian jamur akan menunjukkan pertumbuhan miselium pada usia 12-14 hari. Sirkulasi udara dalam kumbung harus rata dan lancar sehingga perlu diberi kipas angin atau AC.
5.     Casing
Casing merupakan proses pelapisan tanah yang dilakukan dengan ketebalan hingga 3-5 cm di atas media tanam yang sudah tumbuh miselium. Tanah yang digunakan harus tanah cokelat berpori dengan pH tanah antara 6,2-8 dan terbebas dari hama maupun patogen penyebab penyakit. Sebelum melakukan casing tanah disterilisasi terlebih dahulu menggunakan uap panas dengan suhu 70oC selama kurang lebih 2-4 jam dengan penambahan 2 liter formalin sebanyak 40% per m3 tanah. Casing dilakukan sebagai upaya menopang jamur agar dapat berdiri tegak.
6.     Membuka ventilasi setelah 9-14 hari setelah masa casing
Pada saat 9-14 hari setelah masa casing, tubuh buah akan bermunculan dan karena itu segera buka ventilasi agar pertumbuhan jamur kancing dapat lebih cepat, serta suhu dijaga pada suhu 16-20oC.
F.       Panen dan Pasca Panen

Menurut Agriflo (2012), panen jamur kancing dibedakan menjadi dua yaitu fancy (tudung masih tertutup) dan nonfancy (tudung terbuka sedikit dan cincin jamur terlihat), serta mekar (tudung membuka). Ciri jamur yang siap dipanen dalam bentuk segar adalah berdiameter tudung minimal 3,5 cm, berwarna putih dan bersih, tidak ada penyakit brownspot (bercak cokelat pada tudung), berbentuk bulat, tidak rusak atau pecah, serta panjang batang mencapai ¾ dari diameter tudung. Cara pemanennya adalah dengan sedikit ditekan dan diputar supaya tanah dan pinhead tidak ikut tercabut. Batang jamur dipotong setengah dari ukuran diameter tudung menggunakan pisau. Serta siklus jamur kancing antara 21-28 hari setelah panen pertama.

Terdapat dua jenis olahan pasca panen jamur kancing yaitu dalam bentuk segar dan dalam bentuk kaleng. Pengalengan menurut Siswanto (2017), dilakukan untuk mengawetkan jamur kancing agar lebih bertahan lebih lama dari produk segarnya. Adapun cara yang dapat dilakukan untuk melakukan pengalengan, yaitu:
1.     Sortasi jamur kancing yang telah dibersihkan dan dipotong serta dicuci.
2.     Jamur direndam dengan sodium metabisulfit (Na­­2S2O5) 0,1% dan kalsium klorida (CaCl2) 2%, kedua bahan tersebut digunakan untuk melakukan pengawetan.
3.     Blanching atau direbus selama 5-10 menit untuk menghentikan aktivitas enzim setelah itu diturunkan sampai temperatur ruangan.
4.     Jamur dimasukkan dalam kaleng diberi NaCl 2% dan sodium metabisulfit (Na­­2S2O5) 0,1%.
5.     Kaleng ditutup dan disterilisasi selama 35 menit dengan suhu 1000oC menggunakan mengukus atau dapat menggunakan alat sterilisasi.
6.     Setelah semua dilakukan selanjutnya kaleng didinginkan dan siap untuk dipasarkan.
Jamur kancing dijual seharga Rp 13.500 per kilogram dengan keadaan segar. Sedangkan jamur yang telah masuk dalam kaleng atau plastik diberi harga Rp 12.000 per kilogram. Omset dari jamur kancing ini sekitar 400 juta perbulan.

DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Tias Arlianti, Mugiono, dan Chotimatul Azmi. 2011. Panduan Lengkap Jamur. Jakarta: Penebar Swadaya.
Aditya, R. dan D. Saraswati. 2011. 10 Jurus Sukses Beragribisnis Jamur. Penebar Swadaya. Jakarta.
AgriFlo. 2012. Jamur Info Lengkap dan Kiat Sukses Agribisnis. Jakarta: AgriFlo (Penebar Swadaya Grup).
Siswanto, Eko. 2017. Petunjuk Praktis Budidaya Jamur Kuping, Jamur Merang, Jamur Tiram, Jamur Shitake, dan Jamur Kancing Sistem Semi Moderen. Blitar: Fakultas Pertanian Universitas Islam Blitar.

Comments

  1. izin bertanya olahan pasca panen jamur kancing segar bisa tahan berapa lama? dan dalam suhu brp derajat celcius?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas pertanyaannya. Banyak sekali variasi dalam masa penyimpanan jamur kancing. Namun pada ummnya jika jamur ditempatkan di tempat tertutup kedap udara kemudian ditaruh pada suhu ruang maka akan bertahan selama 2 sampai 3 hari. Jika ingin lebih lama maka dapat menggunakan kaleng jika dibandingkan dengan jamur segar yang dibiarkan tanpa pengolahan pasca panen. Kemudian jika semakin rendah suhu maka akan semakin lama jamur bisa bertahan.

      Delete
    2. terimakasih atas jawabannya dimas:)

      Delete
  2. Izin bertanya, kalau semisal pengomposan lewat dari batas yang seharusnya apa boleh tetap dipakai? Kalau boleh, apakah ada pengaruhnya terhadap pertumbuhan jamur?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo marwa, mau menjawab nih, jadi jika dalam ilmu pengomposan boleh saja dipakai, karena setelah proses pengomposan ada proses pasteurisasi, lah sebelum memasuki pasteurisasi ini pengomposan harus sudah benar atau sudah memenuhi syarat untuk masuk ke tahap pasteurisasi. Jadi lama pengomposan tergantung cuaca yang sedang terjadi dalam beberapa hari tersebut.

      Delete
  3. Halo kak, itu disebutkan kalau jamur kancing ada yang berwarna putih bersih, krem, ataupun coklat muda, kira-kira adakah faktor yang menyebabkan perbedaan warna tersebut? Arigatou 🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Konichiwa balqis, jadi warna yang berbeda-beda ditimbulkan dari penyesuaian jamur terhadap cahaya dan iklim yang terjadi di habitat mereka

      Delete
  4. Haloo. izin bertanya, pemberian formalin pada proses casing apa akan mempengaruhi kandungan nutrisi atau pertumbuhan dari tubuh buah jamur? Terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo shinta, guna formalin dalam proses casing ini adalah sebagai penahan air dalam kompos sehingga kompos tidak mudah kering, jadi kandungan nutrisi yang terkandung dalam tubuh jamur tidak akan terpengaruh.

      Delete
  5. izin bertanya, mengapa harga jamur yang sudah diberi perlakuan memiliki harga yang lebih rendah dibandingkan dengan jamur segar? padahalkan ya jamur yang diberi perlakukan memerlukan biaya tambahan . terima kasih!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya diizinkan, jadi kenapa jamur yang segar lebih mahal daripada jamur kaleng dikarenakan masa simpan yang singkat akan mempengaruhi supply dari perusahaan dan karena itu ketika supply lebih rendah dari permintaan maka harga akan tinggi

      Delete
  6. Halo, saya Rahmad mau bertanya soal penambahan formalin saat tahap casing itu berfunsi sebagai apa dan efeknya bila tidak di beri apa?. Soalnya yang saya ketahui formalin merupakan bahan berbahaya bila dikonsumsi.

    ReplyDelete

Post a Comment